Mahasiswa Yang mendapat Gelar Doktor

IB School Jakarta –  Pria kelahiran Bagdad 24 November 1954 ini sukses mempertahankan desertasi berjudul ‘Fleksibilitas pada Fiqh Imam Abu Hanifah’ di depan regu penguji yang diketuai Prof H Edy Suandi Hamid. Sedang promotornya, Prof H M Nur Kholis Setiawan dan Prof H Amir Mu’allim.

Dibeberkan Gailan Hoshi Ali, ketika ini umat Islam menghadapi bermacam-macam perubahan peradaban yang menimbulkan bermacam-macam problem. Di satu sisi, umat Islam berharap menegakan prinsip identitas keislaman pantas dengan syariah Illahi.

Di sisi lain, umat Islam semestinya dapat meniru perubahan peradaban yang kemungkinan besar menyimpang dari syariat Islam. Supaya kedua problem ini dapat sinergi umat Islam diharuskan untuk mencari sebuah sistem hidup yang pantas dengan zamannya.

Dosen tetamu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini melihat fikih Imam Abu Hanifah memiliki aspek fleksibilitas kepada keadaan umat ketika ini. Fleksibilitas ini dapat menghindarkan perbenturan antar peradaban serta eksploitasi agama Islam oleh energi-energi global.

“Sedangkan fleksibel, melainkan konsisten dapat meneguhkan kembali prinsip-prinsip keislaman sejati dalam dunia Islam, bagus secara pemikiran ataupun tingkah laku,” kata Gailan yang tinggal di Sydney Australia.

Kecuali itu, fikih Abu Hanifah mempunyai ciri aktif mengerjakan ‘qias’ dengan pertimbangan maslahat atau diketahui dengan perhatian akan roh syariah. Fikih ini juga memiliki wawasan pemikiran luas dan merujuk pada masa depan.

Fikih ini sudah dipakai pada bidang jurisprudensial, pendirian akidah dan politik, hak asasi manusia, dan hak perempuan. “Penyebab munculnya fikih Abu Hanifah, di antaranya, lingkungan politik yang pluralis, lingkungan adat istiadat dan etnis yang plural, penyusunan kesadaran fikih dan adat istiadat Imam Abu Hanifah yang luas dan mendalam, independensi financial Imam Abu Hanifah, dan debat-debat berbuah yang timbul dalam bermacam-macam mazhab Islami di bawah imbas fikih Imam Abu Hanifah,” papar bapak empat si kecil ini.

Dikala ini, kata Gailan, fleksibilitas fikih telah berkembang cukup memadahi di Indonesia. Cuma saja, perkembangannya masih terhalang oleh cara pengajaran yang masih memisahkan antara spesialisasi ilmu agama dan spesialisasi ilmu-ilmu kehidupan yang lain. “Adanya pembaruan fikih Islami ini bisa menempatkan ulang umat Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin,” ujarnya menandaskan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *